Archive for October, 2012

Apakah Apakah Bidang Usaha Koperasi dimasa yang Akan Datang???


2012
10.31

Berdasarkan PSAK No.27  ada tiga jenis koperasi yakni koperasi produksi, konsumsi, dan  jasa. Sebagian lagi malah  berpendapat ada empat: produksi, konsumsi, jasa, pemasaran.  Para manager koperasi dewasa ini dihadapkan pada tantangan yang cukup besar dimana harus mengetahui paradigma perubahan-perubahan lingkungan dunia usaha dan bagaimana manajer harus bisa memanfaatkan perubahan tersebut untuk pengembangan usaha koperasi dimasa yang akan datang.Tidak ada satu perusahaanpun yang kebal terhadap pengaruh perubahan lingkungan. Koperasi dapat bersaing dengan organisasi lain dalam hal anggota, modal pelanggan dan sebagainya.Keberhasilan sebuah koperasi yang dibangun atas dasar  hubungan dengan anggotanya tergantung dari bagaimana koperasi mempunyai keunggulan bersaing dengan organisasi lain yang menjadi pesaingnya. Keunggulan bersaing yang berkelanjutan hanya bisa diperoleh apabila koperasi melakukan inovasi terus menerus, mengembangkan modal sosial, membenahi organisasional dan berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang terjadi. (more…)

Pengembangan kewirausahaan melalui koperasi


2012
10.05

Pengembangan kewirausahaan melalui koperasi

Dalam pengembangan usaha koperasi sangat diperlukan pula pengembangan sumberdaya manusia, yakni peningkatan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam perkoperasian dan kewirausahaan. Meskipun belum ada terminologi yang sama tentang kewirausahaan (entrepreneurship), namun pada umumnya dasar kewirausahaan mengarah pada hakekat yang sama yaitu kepada peningkatan kualitas hidup manusia.

Peningkatan kualitas hidup melalui kewirausahaan merujuk pada sifat, ciri-ciri dan watak yang melekat pada seseorang untuk memiliki kemauan keras dalam mewujudkan wawasan yang inovatif kedalam kegiatan usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh. Dengan demikian maka jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang memiliki perilaku kreatif, inovatif, menyukai perubahan dan kemajuan berani mengambil resiko dan menerima tantangan.

Kewirausahaan koperasi merupakan penerapan konsep dasar atau jiwa kewirausahaan dalam organisasi koperasi ini dikenal sebagai “kewirakoperasian”. Kewirakoperasian adalah suatu sikap mental positif dalam usaha komperatif dengan mengambil prakasa inovatif serta keberanian mengambil resiko dan berpegang tegah pada prinsip identitas koperasi. Dari definisi tersebut terkandung beberapa unsur yang patut diperhatikan.

  1. Kewirausahan koperasi merupakan sikap mental positif dalam berusaha secara komperatif. ini berarti kewirakopersian harus mempunyai keinginan untuk memajukan organisasi koperasi.
  2. Tugas utama kewirakoperasian adalah mengambil prakasa inovatif artinya berusaha mencari, menemukan dan memanfaatkan peluang yang ada demi kepentingan bersama.
  3. Wirakop harus mempunyai keberanian mengambil resiko karma dunia penuh dengan kepastian. Oleh karna itu dalam menghadapi situasi semacam itu diperlukan seorang wirausaha yang mempunyai kemampuan mengambil resiko.
  4. Kegiatan wirakop harus berpegang teguh pada prinsip identitas koperasi yaitu anggota sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelanggan.
  5. Tujuan utama setiap wirakop adalah memenuhi kebutuhan nyata anggota koperasi dan meningkatkan kesejahteran bersama.
  6. Wirakop dalam koperasi dapat dilakukan oleh anggota manajer birokrat yang berperan dalam pembangunan koperasi dan katalis.

Sebagai organisasi usaha yang unik, keorganisasian koperasi tidak hanya mengelola perusahaan koperasi saja, akan tetapi berkaitan pula dengan perusahaan anggota-anggotanya. Dengan demikian dalam menemukan dan menggali peluang-peluang usaha serta pelaksanaannya, koperasi harus berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan kepada anggotanya.

Di sini penekanan harus diberikan pada peningkatan motivasi untuk menolong diri sendiri melalui kegiatan berkoperasi, berbeda dibanding dengan bantuan pemerintah atau bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain. Swadaya memerlukan inisiatif, jika motivasi untuk menolong diri sendiri merupakan suatu ciri organisasi koperasi, maka para anggota koperasi harus dipersiapkan untuk mengembangkan inisiatif, dan untuk berperan serta secara aktif dalam usaha bersama. Pengalaman membuktikan bahwa kepentingan diri sendiri merupakan motivasi yang paling tepat bagi seseorang untuk berperan serta dalam suatu organisasi koperasi. (more…)

Koperasi dan Keunggulan Kompetitif


2012
10.05

Koperasi dan Keunggulan Kompetitif

Menurut Ropke (1987) mendefinisikan koperasi sebagai organisasi bisnis yang para pemilik atau anggotanya adalah juga pelanggan utama perusahaan tersebut (kriteria identitas). Kriteria identitas suatu koperasi akan merupakan dalil atau prinsip identitas yang membedakan unit usaha koperasi dari unit usaha yang lainnya. Berdasarkan definisi tersebut, menurut Hendar dan Kusnadi (2005), kegiatan koperasi secara ekonomis harus mengacu pada prinsip identitas (hakikat ganda) yaitu anggota sebagai pemilik yang sekaligus sebagai pelanggan. Organisasi koperasi dibentuk oleh sekelompok orang yang mengelola perusahaan bersama yang diberi tugas untuk menunjang kegiatan ekonomi individu para anggotanya.

Dilihat dari perkembangannya sebenarnya bangsa Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk lebih berkembang, namun perlu penekanan baik dari segi tipe koperasi dan arah yang lebih kompetitif, dalam artian perkembangan koperasi nanti bisa bersaing dengan pasar secara luas. Peterson (2005), mengatakan bahwa koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif dibandingkan organisasi-organisasi bisnis lainnya untuk bisa menang dalam persaingan di dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Keunggulan kompetitif disini didefinisikan sebagai suatu kekuatan organisasional yang secara jelas menempatkan suatu perusahaan di posisi terdepan dibandingkan pesaing-pesaingnya. Faktor-faktor keunggulan kompetitif dari koperasi harus datang dari:

  1. Sumber-sumber tangible seperti kualitas atau keunikan dari produk yang dipasarkan (misalnya formula Coca-Cola Coke) dan kekuatan modal.
  2. Sumber-sumber bukan tangible seperti brand name, reputasi, dan pola manajemen yang diterapkan (misalnya tim manajemen dari IBM).
  3. Kapabilitas atau kompetensi-kompetensi inti yakni kemampuan yang kompleks untuk melakukan suatu rangkaian pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan kompetitif.

Salah satu yang harus dilakukan koperasi untuk bisa menang dalam persaingan adalah menciptakan efisiensi biaya. Tetapi ini juga bisa ditiru/dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain (non-koperasi). Sehingga ini bukan suatu keunggulan kompetitif yang sebenarnya dari koperasi. Satu-satunya keunggulan kompetitif sebenarnya dari koperasi adalah hubungannya dengan anggota. Misalnya, di koperasi produksi komoditas-komoditas pertanian, lewat anggotanya koperasi tersebut bisa melacak bahan baku yang lebih murah, sedangkan perusahaan non-koperasi harus mengeluarkan uang untuk mencari bahan baku murah. (more…)

Pembangunan Kesejahteraan melalui Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah


2012
10.04

Hakekat pembangunan adalah untuk mensejahterakan rakyat. Karena konsep pembangunan mencakup berbagai bidang dalam kehidupan bermasyarakat yang multidimensional dengan bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Membangun kesejahteraan masyarakat bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidupnya, dengan memahami bahwa pembangunan kesejahteraan harus menghasilkan kemajuan (progress), berkonotasi dan memandang jauh ke depan. Konsepsi pembangunan kesejahteraan perlu dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan, dan pemberantasan kemiskinan absolut. Karena itu, dalam dinamika membangun masyarakat yang sejahtera diperlukan pemahaman secara holistik, agar di dalam prakteknya tidak hanya dipandang sebagai “aktivitas dan untuk kepentingan ekonomi”. Implikasinya, program-program pembangunan, termasuk Sentra Bisnis UKM dipertanyakan; karena yang dilakukan belum tentu sesuai dengan kebutuhan nyata (real-needs) masyarakat (lokal). Kalaupun ada program pembangunan Sentra Bisnis UKM yang dilaksanakan, prakteknya mungkin belum didasarkan kepada “scientific spirit and social responsibility“. Upaya ini perlu terus dikaji dan ditunjukkan kepada masyarakat. Artinya, apakah model pembangunan dengan mengembangkan Sentra Bisnis UKM di Indonesia ini telah mampu menjawab tantangan mensejahterakan rakyat? (more…)